Sebuah cerita memilukan datang dari seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengakhiri hidupnya karena kesulitan membeli buku dan pena dengan harga kurang dari Rp10 ribu. Kejadian ini seakan menjadi cermin bagi negara yang masih belum mampu memenuhi kebutuhan dasar pendidikan bagi warganya. Siswa laki-laki berusia 10 tahun tersebut berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Ibunya, seorang janda yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, harus bekerja keras untuk menghidupi lima orang anaknya. Ayah korban sudah meninggal sejak ia masih dalam kandungan, sehingga ibunya harus membesarkan kelima anaknya seorang diri. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat pemenuhan kebutuhan dasar seringkali menjadi hal yang sulit dilakukan. Bahkan untuk bisa tinggal bersama di sebuah gubuk, keluarga tersebut sering kali terkendala. Demi meringankan beban ibunya, YBS diminta tinggal bersama neneknya di sebuah pondok di kebun. Mintaian sederhana YBS untuk membeli buku dan pena senilai Rp10 ribu tidak bisa dipenuhi oleh ibunya, sehingga diduga hal itu menjadi pemicu tragis bagi siswa yang dikenal sebagai anak yang baik, pendiam, dan rajin belajar. Kepergian YBS meninggalkan duka yang mendalam di komunitas desanya.




