Sejumlah alumni UIN Syarif Hidayatullah membela pengamat politik senior Saiful Mujani terkait wacana menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia (IP) Burhanuddin Muhtadi menilai pernyataan Mujani itu adalah indikator sehat atau tidaknya demokrasi di Indonesia. Ia mengatakan demokrasi memfasilitasi seluruh pendapat dan opini yang disampaikan. “Tidak boleh setiap pendapat, sejelek apa pun pendapat itu, direpresi. Jadi kalau ada orang berpendapat tetapi direpresi, itu menunjukkan bahwa demokrasi kita tidak sehat,” kata Burhanuddin dalam Halal bi halal Komunitas Ciputat di Tangerang Selatan, Kamis (16/4). Guru Besar Ilmu Politik UIN ini lalu menyinggung soal hasil survei yang memotret tingkat kepuasan publik terhadap demokrasi masih berada di atas 70 persen. Di sisi lain, ia mengatakan ada peristiwa seperti yang dialami Mujani. Burhanuddin, menukil pemikir Slavoj Zizek, menyebut kondisi tersebut menggambarkan situasi ketika masyarakat menikmati kondisi yang sebenarnya bermasalah. “70 persen warga kita merasa puas apa yang sekarang sedang terjadi. Ini kata Zizek lebih berbahaya ketimbang represi. Kalau orang mengalami represi, itu mudah sebenarnya obatnya. Tapi kalau orang merasa mereka menikmati di saat kondisi objektif sebenarnya mereka tersakiti, itu jauh lebih berbahaya,” kata Burhanuddin. “Jadi ada orang seperti Mas Saiful menyampaikan pendapat yang sebenarnya biasa dalam iklim demokrasi, tapi justru mengalami represi, tapi lebih dari 70 persen orang mengatakan puas sama kondisi demokrasi,” imbuh dia. Dalam kesempatan yang sama, pegiat hak asasi manusia Yati Andriyani menilai pernyataan Saiful merupakan bagian dari kebebasan berekspresi dan politik kewargaan yang sah dalam demokrasi. “Tapi saya ingin katakan satu poin, sebenarnya apa yang dikatakan oleh Bang Saiful dalam konteks politik kewargaan itu adalah…




