Bencana banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Sumatera Utara pada 25 November 2025 masih menyisahkan masalah hingga saat ini. Meskipun sudah tiga bulan berlalu, delapan desa di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Tapanuli Selatan masih sulit dijangkau. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sumut, Basarin Yunus Tanjung, menyebutkan bahwa daerah yang paling sulit diakses berada di Desa Rura Julu Toruan di Kecamatan Sipaholon serta Desa Pertengahan, Desa Huta Tua, dan Desa Huta Julu Parbalik di Kecamatan Parmonangan di Tapanuli Utara.
Di Kabupaten Tapanuli Tengah, wilayah dengan akses terbatas terdapat di Kecamatan Tukka dan Sibabangun, termasuk Desa Saur Manggita, Desa Sait Kalangan Dua, Desa Sigiring-giring, dan Desa Sibio-bio. Meskipun demikian, Basarin menegaskan bahwa wilayah tersebut masih bisa dijangkau oleh warga dengan menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki. Namun, kendaraan roda empat tidak dapat masuk karena kondisi jembatan dan badan jalan belum sepenuhnya pulih.
Selain pembangunan jembatan, petugas juga melakukan pembersihan dan penggalian material longsor yang menimbun badan jalan desa. Basarin berharap proses perbaikan dapat selesai pada bulan Maret, dengan catatan cuaca mendukung. Sejumlah jembatan rampo telah dibangun oleh pemerintah bersama TNI, di mana sebagian sudah selesai dan beberapa lainnya masih dalam tahap penyelesaian.
Operasi modifikasi cuaca juga dilakukan untuk mengantisipasi dampak lanjutan akibat banjir. Pemprov Sumut melakukan upaya tersebut agar penyebaran curah hujan tidak terkonsentrasi di satu titik. Banjir dan longsor tersebut menyebabkan ribuan keluarga terdampak dan masih banyak yang tinggal di tenda pengungsian. Korban jiwa juga tidak sedikit, dengan banyak orang meninggal, luka-luka, dan hilang akibat bencana tersebut. Selain itu, proses pembangunan dan penyelesaian masalah terus dilakukan untuk memulihkan wilayah yang terkena dampak bencana tersebut.




