Thomas Djiwandono, Wakil Menteri Keuangan, telah resmi terpilih sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri. Pengangkatannya menjadi Deputi Gubernur BI membawa risiko ekonomi, terutama terkait dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Para pakar ekonomi, termasuk Prof. Marzuki DEA dari Universitas Hasanuddin, menyoroti hubungan antara pencalonan Thomas dan potensi pelemahan rupiah, mengingat Bank Sentral harus tetap independen. Marzuki menekankan pentingnya independensi BI dalam menjaga stabilitas nilai mata uang, terutama terkait dengan inflasi dan nilai tukar. Munculnya isu-isu ini, bersamaan dengan ketidakpastian geopolitik global, dapat berdampak langsung pada pasar uang, termasuk pasar valuta asing. Thomas, yang juga merupakan kader Partai Gerindra dan ponakan dari Presiden Prabowo Subianto, akan menjadi sorotan dalam keputusan kebijakan ekonomi dan keuangan negara ke depan. Keputusan-keputusan ini akan sangat dipantau oleh pelaku ekonomi dan diharapkan dapat mengantisipasi dampaknya terhadap pasar keuangan, terutama pada kondisi pasar valuta asing yang cenderung tidak stabil.




