spot_img

Prabowo Subianto

Spesifikasi dan Harga Honda All New Vario 125 Terbaru 2025

Honda All New Vario 125 telah diperkenalkan sebagai generasi terbaru dalam kategori motor matic 125 cc. Motor ini menawarkan desain, fitur, dan teknologi lampu...
HomeLainnyaAnak Muda Indonesia Harus Siap Menjawab Tantangan Geopolitik Dunia

Anak Muda Indonesia Harus Siap Menjawab Tantangan Geopolitik Dunia

Diskusi mengenai kemungkinan terjadinya perang dunia memang ramai diperbincangkan, baik di dunia maya maupun percakapan santai. Fenomena kecemasan ini menjadi bahan utama dalam acara IR Youth Talks#1 yang digelar oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia, pada 21 April 2026.

Acara tersebut membuka ruang berdialog secara terbuka tentang perkembangan geopolitik global saat ini, dengan topik khusus “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global”. Anggy Pasaribu, jurnalis sekaligus pendiri “Story of Anggy” dan lulusan Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan, menjadi pembuka diskusi dengan mengajukan pertanyaan reflektif tentang apakah ketakutan akan perang dunia benar-benar beralasan.

Namun, daripada menyoroti jawaban pasti, Anggy lebih mendorong audiens untuk mengkaji isu-isu global secara mendalam dan kritis, menjauhi sikap tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Aspirasi tersebut mendapat tanggapan dari Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso, Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI, yang mengingatkan generasi muda agar tidak hanyut dalam praduga tentang perang dunia. Menurut Aloysius, seharusnya perhatian diarahkan ke persiapan Indonesia dalam menghadapi berbagai potensi krisis internasional yang bisa terjadi kapan saja.

Brigjen Aloysius menekankan, “Prioritas kita bukan menerka-nerka kapan perang besar akan terjadi, tapi memastikan kesiapan bangsa dalam mengantisipasi segala kemungkinan.” Ia juga menjelaskan upaya Lemhannas yang secara terstruktur melakukan pemetaan ancaman global menggunakan metode net assessment, simulasi skenario, dan analisis tingkat kerentanan nasional.

Dari pendekatan tersebut, terungkap kerentanan Indonesia, mulai dari ketergantungan impor energi dan pangan, hingga posisi sentral di tengah rivalitas negara-negara besar Indo-Pasifik. Ketergantungan dan posisi ini berpotensi membuat setiap pergolakan di level internasional seketika mempengaruhi stabilitas nasional—baik melalui kenaikan harga energi, tekanan ekonomi, sampai masalah keamanan.

Aloysius menegaskan bahwa kekuatan negara tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi atau militer semata, tapi juga dari kuatnya fondasi ideologis. Ia menyebut Pancasila sebagai pilar utama yang menjaga persatuan nasional di tengah tekanan global, “Stabilitas ideologi menjadi pelindung utama. Tekanan dari luar tidak mudah mengguncang kita bila fondasi kepercayaan bangsa kuat,” katanya.

Selain itu, Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, mengajak peserta berpikir kritis dalam melihat dinamika global. Broto berpendapat bahwa rentetan krisis yang sekarang terjadi lebih tepat dibaca sebagai proses perubahan tatanan dunia—bukan tanda pasti akan perang dunia baru. “Kita sebetulnya menghadapi rentetan krisis yang saling berhubungan, namun arah akhirnya sulit diprediksi,” ujarnya.

Ia lalu mengelaborasi, krisis-krisis tersebut meliputi konflik geopolitik, isu energi, dan tekanan sistem ekonomi global. Ia juga menyinggung tentang pengaruh figur seperti Donald Trump yang kebijakan-kebijakannya memperumit prediksi stabilitas internasional.

Sebagai langkah strategis, Broto memperkenalkan gagasan resilience-based hedging, yaitu strategi yang mengutamakan fleksibilitas dalam diplomasi internasional disertai penguatan kapasitas domestik secara kontinu. Konsep ini penting agar Indonesia tetap kuat di tengah persaingan global dan mampu menyerap efek krisis yang datang bertubi-tubi.

IR Youth Talks tidak sekadar forum diskusi, melainkan juga wadah mempertemukan mahasiswa, akademisi, serta para pengambil kebijakan untuk berdialog setara. Acara ini merupakan hasil kolaborasi berbagai kampus anggota AIHII Chapter Jabodetabek seperti Universitas Indonesia, Universitas Pertamina, Universitas Bina Nusantara, Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur.

Jeanne Francoise, dosen Hubungan Internasional dari President University sekaligus perwakilan AIHII, menuturkan bahwa forum ini dibuat untuk memperdekat generasi muda lintas kampus pada studi hubungan internasional. Hal ini menegaskan bahwa isu-isu global tak hanya menjadi urusan para ahli dan pejabat, melainkan masalah nyata yang akan dirasakan dampaknya oleh generasi penerus.

Menjelang penutupan diskusi, Anggy kembali menekankan pentingnya menjaga sehatnya ruang diskusi publik. Menurutnya, kritik adalah hal wajar dan perlu, namun hendaknya disampaikan dengan santun serta dialokasikan di forum yang tepat. “Kritik sejatinya tetap harus ada, tapi disampaikan secara bermartabat dan pada tempatnya,” katanya.

Ia juga menambahkan, peran generasi muda bisa diwujudkan melalui pemahaman mendalam disertai penyampaian ide yang konstruktif, tidak melulu dengan ekspresi penolakan. “Kita memang tengah hidup dalam ketidakpastian global, namun respons kita sebaiknya berangkat dari kesiapan dan pemahaman yang matang, bukan sekadar kegelisahan,” pungkas Anggy.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko