Berita dari Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) memprediksi bahwa Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kemungkinan akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret. Hal ini disebabkan posisi hilal yang masih berada di bawah kriteria imkan rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU) menurut data falakiyah. Meskipun tinggi hilal di Indonesia berkisar antara 0 hingga 2 derajat, dan elongasi hilal berada di antara 4 hingga 6 derajat, hilal belum memenuhi kriteria visibilitas hilal versi Nahdlatul Ulama. Meski hilal berada di atas ufuk di seluruh Indonesia, ternyata hal tersebut belum dapat terlihat menurut LF PBNU.
Dalam kondisi ini, LF PBNU tetap melaksanakan rukyatul hilal pada Kamis petang sebagai kewajiban fardlu kifayah. Proses pengamatan dilakukan di berbagai titik di Indonesia dengan metode mata telanjang atau bantuan alat optik seperti teleskop dan kamera. Penetapan awal Syawal akan menunggu hasil sidang isbat pemerintah, dan keputusan tersebut akan menjadi dasar bagi PBNU dalam menyampaikan ikhbar kepada warga Nahdlatul Ulama. Jika dalam rukyatul hilal tidak ada laporan terlihatnya hilal, Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal, dengan 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu.
Sidang isbat akan dilakukan oleh Kementerian Agama untuk menentukan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah besok, Kamis. Sementara itu, Muhammadiyah sudah menetapkan Idulfitri 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret. Perbedaan pendapat ini sering terjadi setiap tahun karena perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah. Demikianlah prediksi lebaran dari LF PBNU berdasarkan rukyatul hilal yang dilakukan.




