Banjir bandang telah melanda puluhan kabupaten dan kota di tiga provinsi di Sumatra, yaitu Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat, dalam beberapa hari terakhir. Per Jumat malam, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, melaporkan jumlah korban akibat banjir, termasuk korban meninggal dunia, orang yang hilang, dan orang yang terluka, di ketiga provinsi tersebut.
Banjir ini tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga mengakibatkan terputusnya akses jalur darat dan komunikasi di beberapa titik. Meskipun demikian, pemerintah melalui BNPB telah menyediakan bantuan darurat seperti paket sembako, hygiene kit, kasur lipat, makanan siap saji, dan perlengkapan kebersihan bagi para korban banjir. Bantuan ini disalurkan ke titik-titik bencana yang sudah dapat dijangkau.
Di Sumatra Utara, banjir telah merenggut banyak korban, terutama di wilayah Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Akses transportasi di beberapa wilayah Sumatra Utara terputus, menyulitkan proses evakuasi dan penyaluran bantuan. Di Aceh, tidak kalah tragis dengan 35 korban meninggal, 25 hilang, dan 8 luka-luka. Bencana juga merusak jalur transportasi di beberapa wilayah Aceh, memengaruhi konektivitas antar kota.
Sementara Sumatra Barat juga tidak luput dari bencana banjir, dengan korban jiwa mencapai 23 orang, hilang, dan luka-luka. Bantuan darurat dan pengungsian telah tersebar di beberapa wilayah Sumatra Barat untuk membantu para korban. Kejadian ini disebabkan oleh Siklon Tropis Senyar yang melintas di tiga provinsi tersebut, menyebabkan curah hujan tinggi, banjir bandang, dan longsor.
Bencana alam seperti banjir ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam penanggulangan bencana. Upaya evakuasi, penyaluran bantuan, dan pemulihan infrastruktur menjadi kunci dalam meminimalisir dampak buruk dari banjir bandang di tiga provinsi Sumatra itu.




