Prabowo Subianto

HomeBeritaIsrael Berencana Membangun Tembok Anti-Terowongan Bawah Tanah di Perbatasan Gaza

Israel Berencana Membangun Tembok Anti-Terowongan Bawah Tanah di Perbatasan Gaza

Sebuah kendaraan tempur lapis baja Israel bermanuver di posisi dekat perbatasan dengan Jalur Gaza, di Israel selatan, (2/12/ 2023). Israel ingin membangun tembok anti-terowongan bawah tanah.

TEL AVIV – Israel berencana membangun tembok anti-terowongan bawah tanah di dekat perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir. Tembok tersebut hendak dibangun di Poros Philadelphia setelah perang dengan Hamas yang masih berlangsung saat ini usai.

Kabar mengenai pembangunan tembok anti-terowongan bawah tanah tersebut disiarkan oleh Radio Angkatan Darat Israel (Israeli Army Radio) pada Ahad (17/12/2023). Menurut stasiun radio itu, Israel telah mengutus delegasi ke Mesir untuk membahas rencana pembangunan tembok tersebut.

“Rakyat Mesir memahami kebutuhan keamanan Israel akan hal ini,” kata Israeli Army Radio, mengutip seorang pejabat keamanan Israel dalam laporannya, dikutip laman Middle East Monitor, Senin (18/12/2023).

Belum ada komentar resmi dari Mesir terkait laporan Israeli Army Radio. Poros Philadelphia, lokasi yang dipilih untuk pembangunan tembok anti-terowongan bawah tanah, adalah jalur sempit di wilayah Jalur Gaza, membentang sepanjang 14 kilometer di sepanjang perbatasan antara Gaza dan Mesir.

“Israel takut akan keberadaan terowongan di wilayah Palestina di timur Rafah, yang dianggap sebagai perpanjangan dari Poros Philadelphia,” kata saluran berita Israel, i24News, dalam laporannya terkait rencana pembangunan tembok anti-terowongan bawah tanah di Poros Philadelphia.

Mesir berulang kali mengatakan bahwa tidak ada terowongan bawah tanah di wilayah perbatasannya dengan Jalur Gaza. Israel percaya bahwa terowongan bawah tanah adalah kunci operasi Hamas di medan perang.

Saat ini Israel masih menggencarkan serangannya ke Gaza, terutama ke wilayah selatan, termasuk Rafah. Organisasi-organisasi internasional, termasuk badan-badan PBB, terus menyuarakan keprihatinan dan kecemasan mereka terkait pertempuran di Gaza. Menurut mereka, saat ini tak ada tempat aman bagi penduduk sipil di sana. Sebab ketika konfrontasi berkecamuk di utara, lebih dari 1 juta penduduk Gaza mengungsi ke selatan.

Sejauh ini, agresi Israel ke Gaza telah membunuh sedikitnya 18.800 orang. Lebih dari 14 ribu di antaranya merupakan perempuan dan anak-anak. Sementara korban luka sudah menembus angka 51 ribu.

Sumber: Republika