Prabowo Subianto

Pengabdian Prabowo Subianto dalam Pemerintahan

Prabowo, dalam artikel ini, menunjukkan bahwa sebagai Menteri Pertahanan, dia sangat peduli dengan kekuatan pertahanan Indonesia. Dibawah pimpinannya, pembangunan pertahanan Indonesia mengalami peningkatan signifikan...
HomeBeritaIsrael Menolak untuk Hidup Berdampingan dengan Palestina

Israel Menolak untuk Hidup Berdampingan dengan Palestina

Duta Besar Israel untuk Inggris, Tzipi Hotovely, mengatakan negaranya tidak akan menerima solusi dua negara setelah perang yang pecah pada 7 Oktober lalu berakhir. Politisi garis keras dari Partai Likud ini secara eksplisit menolak gagasan negara Palestina.

Hotovely mengatakannya dalam wawancara dengan wartawan Sky News, Mark Austin. Ia berulang kali ditanya soal solusi dua negara untuk menyelesaikan konflik Palestina dan Israel.

“Jawabannya sama sekali tidak,” kata Hotovely yang merupakan anggota lama Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebelum ditunjuk sebagai duta besar.

‘’Saya pikir sudah waktunya bagi dunia untuk menyadari bahwa paradigma Oslo gagal pada tanggal 7 Oktober. Kita perlu membangun paradigma baru,’’ ujarnya dalam video wawancara yang ditayangkan di akun X centang emas Sky News.

Hotovely menggunakan retorika yang sama, yang digunakan oleh Netanyahu beberapa hari sebelumnya. Netanyahu berselisih paham dengan pemerintahan Joe Biden dengan mengesampingkan gagasan Otoritas Palestina kembali memerintah Gaza.

Hotovely malahan mengambing-hitamkan Palestina atas keputusan Israel menolak gagasan solusi dua negara. Menurut wanita keturunan Georgia ini, Palestina justur yang sesungguhnya tidak ingin hidup berdampingan dengan Israel.

“Alasan kegagalan Perjanjian Oslo adalah karena Palestina tidak pernah ingin memiliki negara selain Israel. Mereka ingin memiliki negara dari sungai hingga laut,” katanya.

Ketika Mark Austin kembali mendesak, Hotovely lagi-lagi menjawab bahwa dia tidak mendukung solusi dua Negara. ‘’Mengapa Anda terobsesi dengan formula yang tidak pernah berhasil, yang menciptakan orang-orang radikal di sisi lain?’’ ujarnya.

Sumber: Republika