Prabowo Subianto

HomeBeritaHujan dan Banjir Membuat Keadaan Pengungsi Palestina Semakin Buruk

Hujan dan Banjir Membuat Keadaan Pengungsi Palestina Semakin Buruk

RAFAH – Hujan deras dan angin dingin menambah penderitaan keluarga Palestina yang dipaksa mengungsi dari rumah mereka akibat serangan Israel ke Gaza. Kini para pengungsi meringkuk berdesak-desakan di tenda yang rapuh dan banjir.

Permukiman sementara di Rafah yang terletak di lahan berpasir dipenuhi sampah. Terlihat warga mencoba pulih dari malam mengerikan, mereka membawa ember-ember tanah untuk menutup lubang di dalam atau sekitar tenda-tenda dan menjemur pakaian basah.

Beberapa keluarga memiliki tenda yang layak, tetapi yang lainnya bertahan dengan terpal atau plastik tipis dan tembus pandang yang dibuat untuk melindungi barang, bukan untuk melindungi orang. Banyak tenda yang tidak memiliki alas sehingga orang-orang menghabiskan malam dengan meringkuk di atas pasir basah.

Aziza al-Shabrawi berusaha mengeluarkan air hujan dari tenda keluarganya. Ia menunjuk kedua anaknya yang hidup dalam kondisi genting.

“Anak laki-laki saya sakit karena kedinginan dan anak perempuan saya tidak memakai alas kaki. Kami seperti pengemis. Tidak ada yang peduli dan tidak ada yang membantu,” kata wanita berusia 38 tahun itu seperti dikutip Aljazirah, Kamis (14/12/2023).

Yasmin Mhani mengatakan ia terbangun di malam hari dan mendapati anaknya yang berusia tujuh bulan basah kuyup. Keluarganya yang terdiri dari lima orang berbagi satu selimut setelah rumah mereka dihancurkan serangan udara Israel dan mereka kehilangan salah satu anak mereka, serta semua harta benda mereka.

“Rumah kami hancur, anak kami menjadi syahid dan saya tetap menghadapi semuanya. Ini adalah tempat kelima yang harus kami tempati, mengungsi dari satu tempat ke tempat lain, dengan hanya mengenakan kaos,” katanya, sambil menggantungkan pakaian basah di luar tenda.

Video yang dibagikan di media sosial menunjukkan orang-orang mengarungi jalanan yang banjir sambil membawa anggota keluarga yang terbunuh dalam pengeboman Israel dan dibungkus dengan kain kafan putih. Hujan deras dan angin kencang mempersulit proses penguburan korban.

Puluhan ribu warga Palestina di Gaza utara mengungsi ke selatan dengan menggunakan berbagai cara baik dengan mobil, truk, kereta kuda, maupun berjalan kaki. Mereka mengubah Rafah menjadi lautan tenda dan tempat penampungan sementara yang terbuat dari kayu dan terpal plastik.

PBB mengatakan warga mengungsi ke selatan untuk menghadapi keadaan yang sangat buruk dengan kerumunan orang yang menunggu berjam-jam di sekitar pusat-pusat distribusi untuk mendapatkan pasokan air, makanan, dan bantuan medis yang sangat terbatas. Sementara penyakit merajalela di tengah-tengah kemelaratan yang diperparah oleh hujan dan banjir.

Sumber: Republika