Prabowo Subianto

HomeBeritaAS Mendukung Perang Gaza dengan Mengirim 10 Ribu Ton Peralatan Militer ke...

AS Mendukung Perang Gaza dengan Mengirim 10 Ribu Ton Peralatan Militer ke Israel Sejak 7 Oktober

Tentara Israel dengan kendaraan tempur lapis baja mereka berkumpul di posisi dekat perbatasan dengan Jalur Gaza, di Israel selatan, (2/12/2023).

GAZA — Amerika Serikat (AS) telah memasok Israel dengan lebih dari 10 ribu ton peralatan militer sejak dimulainya perang Gaza pada 7 Oktober. Kementerian Pertahanan Israel menyatakan pada Rabu (6/12/2023), pesawat kargo ke-200 yang membawa peralatan militer untuk tentara telah tiba di Israel.

Pesawat kargo militer AS pertama tiba di Israel pada 11 Oktober. “Sejak itu, lebih dari 10 ribu ton peralatan militer telah dikirim ke Israel sejak awal perang,” kata Kementerian Pertahanan Israel dikutip dari Anadolu Agency.

Sedangkan peralatan yang baru diterima tersebut mencakup kendaraan lapis baja, persenjataan, alat pelindung diri, pasokan medis, amunisi, dan banyak lagi. Pasokan-pasokan seperti itu digunakan Israel dalam melakukan serangan militernya di Jalur Gaza sejak 7 Oktober. Menurut laporan Hamas, 16.248 warga Palestina telah terbunuh dan lebih dari 43.616 lainnya terluka dalam serangan udara dan darat.

Tentara Israel mengatakan pada Rabu, bahwa telah menyerang sekitar 250 sasaran di Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir. “Pasukan Angkatan Darat terus mencari senjata, lubang bawah tanah, bahan peledak dan infrastruktur militer tambahan,” kata sebuah pernyataan militer.

Menurut tentara Israel, pertempuran intensif disertai dukungan udara sedang terjadi melawan pejuang Palestina di Jalur Gaza. Sehari sebelumnya, kelompok Palestina Hamas mengeklaim membunuh 10 tentara Israel dari jarak dekat di timur Khan Younis. Kelompok tersebut mengatakan, para pejuangnya juga menyerang tiga tank Israel, dua pengangkut personel, dan tiga buldoser militer dengan peluru anti-lapis baja di kota tersebut.

Israel melanjutkan serangan militernya di wilayah Palestina pada 1 Desember. Tindakan militer itu kembali terjadi setelah berakhirnya jeda kemanusiaan selama seminggu dengan kelompok Palestina Hamas.