Winatra dikembangkan sebagai aplikasi navigasi berbasis Android untuk membantu tunanetra mengenali arah dan lokasi di dalam kampus maupun gedung publik. Proyek open source ini menawarkan petunjuk suara sebagai lapisan informasi tambahan ketika guiding block atau ubin pemandu belum mampu menjelaskan kondisi lingkungan secara kontekstual.
Ubin pemandu dapat menunjukkan jalur yang perlu diikuti, tetapi tidak memberikan keterangan terperinci mengenai posisi pengguna, letak ruangan, toilet, tangga, atau titik lain di dalam bangunan. Winatra dirancang untuk mengisi keterbatasan tersebut tanpa dimaksudkan menggantikan tongkat, guiding block, maupun kemampuan orientasi pengguna.
Navigasi suara dengan beberapa metode penentuan posisi
Winatra mengusung pendekatan voice first sehingga navigasi tidak bergantung pada tampilan visual. Pengguna dapat menyampaikan lokasi tujuan, lalu sistem berusaha memperkirakan posisi dan memberikan arahan yang sesuai. Informasi seperti ruangan berada di sebelah kanan atau pengguna harus berbelok setelah melewati koridor disampaikan melalui suara.
Untuk menentukan lokasi, aplikasi menggabungkan WiFi fingerprinting, sensor ponsel melalui metode dead reckoning, dan NFC. WiFi fingerprinting memperkirakan posisi berdasarkan karakteristik jaringan pada area tertentu. Setelah posisi awal diketahui, sensor ponsel membantu menghitung perpindahan pengguna dari satu titik ke titik berikutnya.
NFC menjadi opsi penanda tambahan pada lokasi yang telah dipasangi tag. Metode ini dapat memberikan acuan posisi yang lebih pasti di titik tertentu. Masing-masing teknologi memiliki fungsi berbeda, sehingga Winatra tidak hanya bergantung pada satu sumber informasi untuk menjalankan navigasi.
Arahan suara juga disesuaikan dengan kondisi perjalanan. Ketika pengguna sudah berjalan ke arah yang benar, silent mode mengurangi instruksi yang tidak diperlukan. Instruction mode aktif saat pengguna mencapai titik pengambilan keputusan, sedangkan correction mode digunakan ketika arah perjalanan mulai menyimpang.
Peta lokal dapat disesuaikan dengan bangunan
Data bangunan direpresentasikan sebagai graph dan disimpan secara lokal melalui file JSON. Setiap titik dapat memuat label lokasi, fingerprint WiFi, serta hubungan dengan titik-titik lain yang membentuk jalur di dalam gedung.
Struktur tersebut memungkinkan data peta disesuaikan dengan penggunaan bangunan. Ketika gedung baru akan dipetakan, pengelola dapat menambahkan data tanpa harus mengubah keseluruhan aplikasi. Penyimpanan dan pemrosesan lokal ini sejalan dengan pendekatan offline first dan zero cost yang digunakan dalam proyek Winatra.
Akurasi masih memerlukan pengujian lapangan
Winatra belum diposisikan sebagai aplikasi navigasi yang sepenuhnya matang. Sejumlah fitur masih dalam tahap pengembangan, pengujian, dan perbaikan. Kesalahan perkiraan posisi, pengenalan ruangan yang kurang tepat, serta instruksi suara yang tidak selalu muncul sesuai kondisi masih mungkin terjadi.
Navigasi di dalam bangunan memiliki tantangan tersendiri. Sinyal WiFi dapat digunakan untuk memperkirakan lokasi, tetapi tingkat ketelitiannya terbatas. Perubahan posisi router berpotensi membuat fingerprint yang telah dibuat tidak lagi relevan. Kompas pada ponsel juga dapat dipengaruhi kondisi lingkungan, sementara gedung yang berdekatan dapat menimbulkan masalah apabila karakteristik sinyal jaringannya mirip.
Karena berkaitan dengan mobilitas dan keselamatan, sistem juga perlu menyampaikan kondisi ketika tidak yakin terhadap informasi yang dihasilkan. Status Winatra sebagai proyek open source membuka kesempatan bagi komunitas untuk ikut mengembangkan aplikasi dan pemetaan gedung. Namun, penerapannya tetap membutuhkan pengujian langsung di beragam lingkungan, pemeliharaan data bangunan, dan evaluasi akurasi agar petunjuk yang diberikan tetap dapat diandalkan.




