spot_img

Prabowo Subianto

7 Bagian Kendaraan Penting yang Harus Diperiksa Setelah Terpapar Abu Vulkanik

Kendaraan Harus Diperiksa dengan Teliti Setelah Terpapar Abu Vulkanik Jakarta (ANTARA) - Abu vulkanik yang tersebar akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menimbulkan risiko bagi...
HomeLainnyaBuku Lens Chronicle 1 Perkuat Dokumentasi Biodiversitas Paseban

Buku Lens Chronicle 1 Perkuat Dokumentasi Biodiversitas Paseban

Pentingnya kolaborasi lintas sektor dan regenerasi dalam konservasi menjadi sorotan utama dalam perayaan dua tahun Paseban Foundation yang bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional. Melalui acara tahunan “Paseban Foundation Annual Dinner 2026” dengan tema “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve,” lembaga tersebut menegaskan komitmennya sebagai jembatan antara pengalaman konservasi di lapangan dengan penyebaran pengetahuan ke berbagai kalangan.

Rangkaian acara tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya kementerian terkait, perwakilan diplomatik, badan internasional seperti FAO, UNESCO, UNDP, anggota legislatif, pelaku usaha, organisasi konservasi, akademisi, tokoh masyarakat, dan generasi muda. Hal ini menunjukkan pentingnya keterpaduan langkah dalam menjaga dan melestarikan Bentang Alam Megamendung yang masuk dalam Cagar Biosfer Cibodas. Kolaborasi ini secara tegas melampaui batas sektoral dan administratif, menandai paradigma baru pengelolaan bentang alam.

Andy Utama, pendiri sekaligus Pembina Paseban Foundation, menegaskan bahwa kerja konservasi perlu terus berjalan tanpa mengenal akhir, sehingga regenerasi pelaku dan pewarisan semangat sangat dibutuhkan. Menurut Andy, tak cukup hanya satu institusi, figur, atau generasi saja yang memikul tanggung jawab ini. Regenerasi dijadikan fondasi agar upaya perlindungan alam bisa berkelanjutan dan menjadi warisan bagi masa depan.

Keberadaan Paseban Foundation bukanlah sebagai pusat tunggal aktivitas konservasi, melainkan sebagai ruang pertemuan beragam pihak untuk membawa kapasitas dan sumber dayanya masing-masing, sehingga kekuatan dan pengetahuan dapat saling dilengkapi. Lembaga ini memilih peran sebagai fasilitator dan penghubung guna mendorong sinergi berbagai elemen dalam melestarikan alam.

Di lapangan, Paseban Foundation menjalankan program konservasi beragam, mulai dari perlindungan ekosistem, restorasi lingkungan, penanaman puluhan ribu pohon lokal, hingga konservasi ex-situ seperti penangkaran satwa untuk memperkuat populasi hewan liar. Kamera pemantau dan survei keanekaragaman hayati rutin digelar untuk memetakan kondisi ekosistem Megamendung. Dari pemantauan tersebut, ditemukan fakta adanya lima spesies primata khas Jawa yang masih bertahan di area dengan tekanan manusia yang tinggi.

Megamendung menjadi rumah bagi fauna ikonik termasuk Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, yang habitatnya kian terdampak aktivitas manusia. Fakta ini, menurut Wahdi Azmi selaku Executive Director Paseban Foundation, menjadi pengingat bahwa perlunya pengelolaan lanskap berbasis ilmu pengetahuan dan kolaborasi agar spesies-spesies langka masih dapat ditemukan di Jawa yang penduduknya terpadat di Indonesia.

Data dan pengalaman dari lapangan tak hanya dikumpulkan, tapi juga diolah menjadi produk pengetahuan seperti buku, film dokumenter, dan materi edukasi. Inisiatif knowledge management ini bertujuan memperluas manfaat hasil konservasi bagi penelitian, kebijakan, pendidikan, dan kampanye publik, sekaligus mempercepat diseminasi informasi ke berbagai kelompok masyarakat.

Peluncuran buku “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” dan dokumenter “The Silent Resilience” menjadi wujud konkret bagaimana Paseban Foundation bertransformasi menjadi institusi pengetahuan, bukan sekadar pelaku perlindungan alam. Dengan pendekatan ini, hasil konservasi dari lapangan diharapkan mampu membangun kesadaran serta memperkokoh jejaring kerja sama multi-sektor.

Salah satu tantangan utama adalah memastikan peran generasi muda dalam keberlanjutan konservasi. Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, menyoroti kebutuhan untuk mengolah data menjadi narasi publik agar generasi muda terdorong terlibat aktif. Dari Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia menegaskan bahwa tongkat estafet perlindungan alam berada di tangan muda-mudi yang akan mengambil alih tugas dari generasi sebelumnya.

Wiratno, penasihat Paseban Foundation, juga menyampaikan bahwa pengelolaan bentang alam tidak bisa dilakukan oleh satu institusi semata. Setiap entitas—baik pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, maupun masyarakat adat—harus bersatu dalam satu sistem ekosistem. Kolaborasi menjadi kunci untuk memastikan kelestarian alam yang tidak terbatasi administrasi atau kepentingan kelompok.

Secara keseluruhan, peran Paseban Foundation dapat dilihat sebagai penggerak utama kolaborasi dan pengelolaan pengetahuan, membangun model kelestarian Bentang Alam Megamendung secara jangka panjang. Fleksibilitas berjejaring dan upaya regenerasi dirancang agar kerja konservasi dapat berjalan melampaui masa, individu, dan kepentingan jangka pendek, menjadi tonggak pengabdian lintas generasi.

Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut