spot_img

Prabowo Subianto

Spesifikasi dan Harga Honda All New Vario 125 Terbaru 2025

Honda All New Vario 125 telah diperkenalkan sebagai generasi terbaru dalam kategori motor matic 125 cc. Motor ini menawarkan desain, fitur, dan teknologi lampu...
HomeLainnyaNgertakeun Bumi Lamba XVIII Mengajak Kembali Menghormati Alam

Ngertakeun Bumi Lamba XVIII Mengajak Kembali Menghormati Alam

Merawat bumi adalah tanggung jawab nyata yang berada di pundak kita saat ini, bukan beban yang bisa ditunda untuk generasi yang belum lahir. Tengoklah kenyataan: perusakan lingkungan dan pemanasan global terus mengancam, menjadikan tindakan menjaga alam sebagai kewajiban moral antargenerasi, bukannya pilihan belaka yang dapat diabaikan begitu saja.

Pesan serupa mengalir kuat dalam perhelatan budaya Ngertakeun Bumi Lamba XVIII di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Subang, pada Minggu, 21 Juni. Acara sakral bertema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa” tersebut menjadi ruang pertemuan para tokoh adat, budayawan, serta pegiat lingkungan dari penjuru Indonesia, yang hadir untuk kembali menegaskan hubungan manusia dengan alam sebagai kemitraan, bukan hegemoni.

Di tengah nuansa kontemplatif, suara Andy Utama dari Paseban Foundation membawa makna yang menohok, “Dengan Adanya Hari Ini, Maka Baru Ada Hari Esok.” Kalimat ini kembali mengingatkan betapa keputusan yang kita buat hari ini akan menjadi pijakan bagi kelangsungan kehidupan esok hari.

Inspirasi semangat lingkungan seperti ini telah lama terpatri di Indonesia. Sejak 1970-an, Emil Salim menggaungkan gagasan pembangunan berwawasan lingkungan, menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan keseimbangan sosial tidak boleh dipisahkan. Prinsip serupa hadir pula dalam ranah akademik dunia melalui teori keadilan antargenerasi yang diusung Richard P. Hiskes, yang menyatakan bahwa generasi masa kini memiliki kewajiban mempertahankan lingkungan layak huni bagi generasi selanjutnya.

Berakar dari pemahaman tersebut, Andy mengajak kita semua untuk membuang anggapan bahwa manusia adalah penguasa tunggal bumi, dan kembali menempatkan diri sebagai pelindung keberlangsungan ekosistem.

Andy Utama bukan sekadar melempar wacana di jalur teori, namun membumikannya lewat aksi di kawasan Megamendung bersama Paseban Foundation. Mereka menerapkan sistem pertanian organik yang meminimalisasi kerusakan tanah dan emisi. Selain itu, upaya penyelamatan satwa direalisasikan dengan membangun Lembah Aviary Paseban dan penangkaran Rusa Timor, di samping program pelepasliaran satwa seperti Elang Jawa ke alam bebas.

Tak kalah penting, gerakan penghijauan masif juga dilakukan dengan penanaman lebih dari 21.000 bibit pohon dari ratusan jenis flora hutan, sebagai langkah memulihkan kembali vegetasi alami Megamendung yang nyaris punah dalam seabad terakhir.

Intisari dari setiap kerja keras nyata ini tentu melampaui sekadar angka dan pencapaian. Andy Utama senantiasa menekankan, apa yang kita wariskan jauh lebih berarti daripada apa yang kita kumpulkan. “Kehidupan akan mengenang yang kita tanamkan dan berikan, bukan apa yang kita simpan sendiri,” tuturnya.

Di balik seluruh rangkaian acara dan kegiatan konservasi ini, hakikat pesan Ngertakeun Bumi Lamba tetap tegas: kelestarian alam hari ini adalah jaminan untuk kehidupan manusia di masa depan, sebuah warisan yang nilainya tak tergantikan oleh apapun.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII