Heru Subagia, seorang Pengamat Politik dan Ekonomi, berpendapat bahwa pernyataan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, mengenai kemungkinan transformasi Projo menjadi partai politik hanyalah strategi komunikasi politik belaka. Menurut Heru, langkah ini dilakukan untuk membangkitkan semangat dan eksistensi Projo di tengah situasi politik yang terus berubah.
Menurut Heru, pembentukan partai politik merupakan sebuah manuver populis yang bertujuan untuk kembali memperoleh perhatian publik. Meskipun demikian, Heru menyatakan bahwa langkah ini sebenarnya tidak konsisten dengan peran dan tujuan awal Projo sebagai kelompok relawan pendukung Jokowi tanpa memiliki agenda politik sendiri.
Heru juga menyoroti bahwa Budi Arie, sebagai pemimpin Projo, saat ini tidak memiliki posisi politik yang kuat setelah dicopot dari jabatan Menteri Koperasi dan UKM. Menurut Heru, Budi Arie sedang mengalami tekanan politik dan masalah hukum, yang membuatnya tidak memiliki landasan yang cukup kuat untuk menjadikan Projo sebagai partai politik. Hal ini membuat Projo kehilangan arah politiknya setelah masa kepemimpinan Jokowi berakhir.
Dengan demikian, upaya Budi Arie untuk menjadikan Projo sebagai partai politik dinilai terlalu berlebihan dan tidak relevan dengan konteks politik dan kelembagaan saat ini. Heru menggarisbawahi bahwa Projo seharusnya tetap fokus pada peran awalnya sebagai kelompok relawan pendukung presiden tanpa harus beralih menjadi entitas politik yang berdiri sendiri.




