Pada pembukaan pertemuan pertama KTT BRICS, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menyatakan bahwa blok BRICS mewakili semangat dari Konferensi Asia-Afrika yang bersejarah, yang lebih dikenal sebagai Konferensi Bandung, yang menentang dominasi oleh kekuatan besar dunia. Lula juga menekankan krisis multilateralisme yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia saat ini. Dia mencatat bahwa BRICS adalah pewaris Gerakan Non-Blok Bandung dan menggarisbawahi peran BRICS dalam lanskap global saat ini.
Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, juga turut hadir dalam pertemuan itu, menandai partisipasi Indonesia sebagai anggota penuh BRICS untuk pertama kalinya sejak 1 Januari 2025. Selain itu, KTT BRICS merupakan forum bagi para pemimpin BRICS untuk membahas berbagai tantangan politik, keamanan, ekonomi, dan keuangan yang ada di berbagai wilayah. Mereka juga diharapkan membicarakan isu-isu penting seperti tata kelola kecerdasan buatan, tindakan iklim, perlindungan lingkungan, dan kesehatan global. Semua ini merupakan bagian dari upaya mereka untuk memperkuat kerjasama multilateral dan mencari peluang kolaborasi di sektor-sektor baru.
Dengan Indonesia sebagai anggota penuh, diharapkan kerjasama antara negara-negara BRICS semakin meningkat dalam mengatasi berbagai tantangan global dan mempromosikan visi multipolar dalam tatanan internasional. Segala upaya tersebut mengambil inspirasi dari semangat perlawanan dan kerjasama yang diwujudkan oleh Konferensi Bandung, yang kini diwarisi oleh BRICS sebagai pengembangan lebih lanjut dari Gerakan Non-Blok tersebut.




