Prabowo Subianto

Puan Sebut Pihak Ganjar dan Anies Sudah Berkomunikasi, Nusron Wahid: Kami Berfokus untuk Menghemat Uang Rakyat

Jakarta - Sekretaris Tim Kampanye Nasional Prabowo Gibran, Nusron Wahid, merespons dengan santai pernyataan Puan Maharani yang menyebut adanya jalinan komunikasi antara pihak Anies...
HomeBeritaPenyerangan Israel di Gaza adalah Perbuatan Pembantaian, Bukan Perang

Penyerangan Israel di Gaza adalah Perbuatan Pembantaian, Bukan Perang

NEW YORK – Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad Al-Maliki, telah mengatakan bahwa apa yang dilakukan Israel di Jalur Gaza bukanlah perang, melainkan pembantaian. Dia mendesak agar jeda kemanusiaan yang saat ini diterapkan oleh Hamas dan Israel di Gaza ditingkatkan menjadi gencatan senjata.

Al-Maliki mengungkapkan bahwa lebih dari 15 ribu warga Palestina di Gaza telah tewas sejak Israel melancarkan agresi pada 7 Oktober 2023. Dari jumlah korban, 10 ribu di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. “Ini bukan perang. Ini adalah pembantaian yang tidak dapat dibenarkan oleh siapa pun. Ini harus diakhiri,” ujar Al-Maliki saat menghadiri pertemuan di Dewan Keamanan PBB untuk membahas situasi di Gaza, Rabu (29/11/2023), dikutip dari laman berita Palestina, WAFA.

Dia menambahkan bahwa tidak seorang pun yang aman di Gaza saat ini, termasuk anak-anak, dokter, jurnalis, staf PBB, dan pekerja kemanusiaan. “Mereka dibunuh dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern,” ucapnya.

Al-Maliki menyatakan bahwa Gaza memiliki tempat istimewa dalam sejarah nasional Palestina. Dia mengatakan bahwa wilayah yang sudah diblokade oleh Israel sejak 2017 itu tidak akan pernah bisa dihapus. Rakyat Palestina tidak dapat dicabut darinya.

Sejak 24 November lalu, Hamas dan Israel telah menerapkan gencatan senjata. Gencatan senjata tersebut akan berakhir pada Kamis (30/11/2023) pukul 07:00 waktu Gaza atau pukul 12:00 WIB. Sepanjang gencatan senjata diberlakukan, kedua belah pihak melakukan pertukaran antara sandera dan tahanan. Sepanjang gencatan senjata, Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya di Gaza telah membebaskan lebih dari 80 sandera. Sebanyak 60 di antaranya merupakan warga Israel yang terdiri dari perempuan dan anak-anak.

Ketika melakukan operasi infiltrasi ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu, Hamas disebut menculik setidaknya 240 orang. Sebagian besar dari mereka merupakan warga sipil, yang terdiri dari warga Israel, warga Israel berkewarganegaraan ganda, dan warga asing.

Sebagai imbalan atas pembebasan para sandera oleh Hamas, Israel sejauh ini telah membebaskan 180 tahanan Palestina dari penjara di Tepi Barat. Sejauh ini, jumlah warga Gaza yang tewas akibat agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 15 ribu jiwa, termasuk 6.000 anak-anak dan 4.000 perempuan. Sedangkan korban luka mencapai 33 ribu orang. Sumber: Republika