Prabowo Subianto

Visi Indonesia untuk Tahun 2045: Kondisi untuk Kemajuan dan Kemakmuran

Oleh: Prabowo Subianto Rekan-rekan Indonesiaku, jika Anda hanya bisa mengambil satu hal dari buku ini, maka haruslah ini: Sebagai bangsa, kita harus segera mencapai pertumbuhan...
HomeBeritaRutinitas Tentara Israel Menganiaya Anak Palestina di Penjara

Rutinitas Tentara Israel Menganiaya Anak Palestina di Penjara

Di penjara-penjara Israel, warga Palestina menghadapi kondisi yang keras, mulai dari pemukulan hingga kelaparan, kedinginan, dan pelecehan lainnya. Kondisi ini diungkapkan oleh Osama Naif Marmash, seorang anak yang baru-baru ini dibebaskan berdasarkan kesepakatan pertukaran tahanan antara Israel dan kelompok perlawanan di Jalur Gaza. “Setiap minggu, tentara Israel datang untuk memukuli kami, merampas semua pakaian, selimut, dan kasur kami,” kata Marmash kepada Anadolu Agency. Marmash berbicara tentang pemukulan mingguan yang dilakukan oleh tentara Israel, makanan yang tidak mencukupi, dan penyitaan barang-barang pribadi secara sewenang-wenang, termasuk pakaian, penutup tempat tidur, dan kasur. Bahkan dalam waktu mendekati pembebasan, dia tetap merasakan hukuman dari Israel.

Menurut Marmash, para tahanan Palestina mengetahui tentang kesepakatan pertukaran tahanan pada 24 November 2023. Pagi itu, tentara Israel datang dan menyiram para tahanan dengan air meskipun cuaca dingin. “Makanan yang dialokasikan untuk para narapidana sangat terbatas,” kata Marmash. Anak laki-laki yang berasal dari kota Nablus di wilayah pendudukan Tepi Barat mengatakan, mereka telah dipaksa untuk tetap berada dalam suhu dingin sejak pukul 08.00 sampai Palang Merah datang dan membawa pergi dari Penjara Ofer. Pemuda berusia 16 tahun ini telah ditahan tanpa dakwaan dalam penahanan administratif selama lima bulan terakhir. Marmash menyampaikan rasa terima kasihnya kepada sayap militer Hamas Brigade Al Qassam dengan mengakui peran mereka dalam menjamin pembebasan para tahanan.

Pertukaran tahanan ini merupakan bagian dari jeda sementara selama empat hari yang dimulai pada 24 November, termasuk pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Jeda kemanusian pun diperpanjang selama dua hari. Meskipun gencatan senjata memberikan kelegaan sesaat, dampak konflik masih tetap tinggi. Otoritas kesehatan Palestina melaporkan, lebih dari 14.854 warga Palestina terbunuh, termasuk banyak perempuan dan anak-anak. Di sisi lain, jumlah korban tewas resmi di Israel mencapai 1.200 orang. 

Sumber: Republika