Prabowo Subianto

HomeBeritaLebanon Meminta Bantuan Internasional Lebih Banyak untuk Menghadapi Ancaman Konflik dengan Israel

Lebanon Meminta Bantuan Internasional Lebih Banyak untuk Menghadapi Ancaman Konflik dengan Israel

Kementerian Kesehatan Lebanon meminta bantuan dari komunitas internasional untuk mendapatkan lebih banyak pasokan bantuan di dalam negerinya. Hal ini untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi eskalasi lebih lanjut di perbatasannya karena bentrokan antara Israel dan Hizbullah telah memasuki pekan ketujuh.

Pertempuran di perbatasan Lebanon dimulai setelah Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan terhadap serangan mendadak yang dipimpin Hamas di perbatasan Gaza pada 7 Oktober, yang menewaskan 1.200 warga Israel. Di sisi lain, serangan balasan dari Israel telah menewaskan sekitar 15.000 warga Palestina, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, dalam pengeboman dan invasi darat ke Gaza.

Pertempuran di perbatasan Lebanon terus meningkat, menyebabkan lebih dari 55.000 orang mengungsi hingga saat ini. Pemerintah Lebanon telah membuat rencana darurat untuk menangani mereka yang telah mengungsi dan potensi perang berskala besar di perbatasan ini. Saat ini setidaknya lebih dari satu juta warga Lebanon telah mengungsi ke arah utara dan membanjiri rumah sakit di selatan.

Namun, setelah empat tahun mengalami krisis ekonomi yang hebat, negara Lebanon sangat membutuhkan pasokan medis dan pasokan lainnya. “Persediaan, persediaan, ditambah persediaan. Kami masih memiliki banyak obat yang hilang di Lebanon… Kami tidak memiliki cukup uang untuk semuanya,” kata Wahida Ghalayini, Manajer Pusat Operasi Darurat Kesehatan Masyarakat.

Ghalyini mengatakan bahwa rumah sakit-rumah sakit di Lebanon selatan kekurangan obat-obatan untuk membantu pasien-pasien yang menderita penyakit kronis, serta perlengkapan dasar seperti jarum suntik, masker, dan mesin dialisis. Kurangnya pasokan medis diperparah dengan hilangnya staf medis yang berpengalaman karena lebih banyak dokter senior yang pindah ke luar negeri untuk mencari gaji yang lebih baik.

LSM seperti Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan PBB telah membantu melakukan pelatihan untuk tenaga medis di selatan, juga mengadakan lokakarya untuk peristiwa korban massal dan perawatan korban Fosfor Putih.

UNICEF telah menghabiskan 1,4 juta dolar AS untuk membawa pasokan perawatan kesehatan darurat jika bandara dibom, seperti yang terjadi pada tahun 2006. Badan PBB tersebut juga telah bekerja untuk melengkapi Pusat Kesehatan Primer di bagian selatan sehingga mereka dapat terus bekerja di tengah-tengah perang.

Sebagian besar Pusat Kesehatan Primer di bagian selatan Lebanon bergantung pada campuran generator tenaga bahan bakar dan panel surya, karena jaringan listrik Lebanon menyediakan pasokan listrik yang tidak konsisten.

Meskipun kini telah terjadi jeda singkat dalam pertempuran sesuai dengan gencatan senjata Israel-Hamas yang ditandatangani pada tanggal 24 November, bentrokan di perbatasan dapat kembali terjadi ketika konflik di Gaza dimulai lagi.